Ketika Korban Menjadi Terdakwa: Analisis Yuridis Pemenuhan Unsur Noodweer dalam Perkara Nomor 70/Pid/B/2024/PN.Lbo dan 133/Pid.B/2024/PN.Lbo

Penulis

  • Tiara Aulia Syam Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Indonesia
  • Warsito Kasim Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Indonesia
  • Suslianto Suslianto Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.30603/am.v22i1.7707

Kata Kunci:

Noodweer, Criminal Responsibility, Judicial Discretion, Assault, Substantive Justice

Abstrak

Pembelaan terpaksa (noodweer) merupakan alasan penghapus pidana yang melegitimasi tindakan pembelaan diri terhadap serangan melawan hukum. Meskipun telah diatur dalam Pasal 49 KUHP dan Pasal 34–35 UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP Nasional, penerapannya dalam praktik peradilan masih belum konsisten. Penelitian ini mengkaji Perkara Nomor 133/Pid.B/2024/PN.Lbo, di mana terdakwa telah diakui sebagai korban dalam Putusan Nomor 70/Pid.B/2024/PN.Lbo, tetapi dalil noodweer tetap ditolak oleh majelis hakim. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif-empiris melalui analisis doktrinal, studi putusan, dan wawancara dengan hakim serta advokat di Pengadilan Negeri Limboto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa majelis hakim lebih menekankan pada terpenuhinya unsur penganiayaan berdasarkan Pasal 351 ayat (1) KUHP tanpa menguji secara kumulatif prinsip subsidiaritas, proporsionalitas, dan culpa in causa. Peristiwa tersebut juga dikualifikasikan sebagai perkelahian timbal balik (mutual fight) sehingga posisi defensif terdakwa tidak diakui. Penelitian ini menegaskan bahwa pengujian dalil noodweer perlu dilakukan secara kumulatif dan kontekstual untuk menjamin kepastian hukum dan keadilan substantif.

Referensi

Alfathan, M. Hafidz Faqih, Mirza Taufiqurrahman, dan Azi Fernando Putra. “Analisis Hukum Unsur Pembelaan Terpaksa atau Membela Diri Dalam Hukum Pidana.” Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik 2, no. 3 (2025): 118–130. https://ejurnal.kampusakademik.co.id/index.php/jmia/article/view/4562.

Arief, Barda Nawawi. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana. Jakarta: Kencana, 2008.

Audina, Izzah, dan Ifahda Pratama Hapsari. “Two Systems, One Concept of Comparative Analysis of Dutch Noodwer and Indonesian Forced Defense.” Jurnal Akta 11, no. 4 (2024): 1092-1103. https://dx.doi.org/10.30659/akta.v11i4.40735.

Fletcher, George P. Rethinking Criminal Law. Edisi Revisi. Oxford: Oxford University Press, 2000.

Gaston, Erica L. “Reconceptualizing Individual or Unit Self-Defense as a Combatant Privilege.” Harvard National Security Journal 8 (2017): 283-332. https://journals.law.harvard.edu/nsj/wp-content/uploads/sites/82/2017/02/Gaston-NSJ-Vol-8.pdf

Hamzah, Andi. Asas-Asas Hukum Pidana. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.

Hiqmah, Noeroel. “Pembelaan Terpaksa (Noodweer) dalam Tindak Pidana Penganiayaan (Analisis Yuridis Putusan Nomor 155/Pid.B/2020/PN.BRB).” Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2024.

Leider, Robert. “Taming Self-Defense: Using Deadly Force to Prevent Escapes.” Florida Law Review 70, no. 5 (2018): 1-48. https://scholarship.law.ufl.edu/flr/vol70/iss5/2.

Moeljatno. Asas-Asas Hukum Pidana. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

Pengadilan Negeri Limboto. Data Perkara Penganiayaan SIPP Tahun 2020–2025.

_____. Putusan Pengadilan Negeri Limboto Nomor 70/Pid.B/2024/PN.Lbo.

_____. Putusan Pengadilan Negeri Limboto Nomor 133/Pid.B/2024/PN.Lbo.

Puspita, Andini Adelia, Sutrisno Hadi, dan Muhammad Sadi Is. “Perlindungan Hukum Bagi Korban Noodweer Pada Tindak Pidana Penganiayaan dalam Perspektif Hukum Pidana Islam.” Harmonization: Jurnal Ilmu Sosial, Ilmu Hukum, dan Ilmu Ekonomi 3, no. 2 (2025): 56–67. https://jurnal.erapublikasi.id/index.php/HN/article/view/1437.

Refin, Fergio Rizkya, dan Salman Daffa' Nur Azizi. “Dasar Hukum Pembelaan Terpaksa (Noodweer) dan Pembelaan Terpaksa Melampaui Batas (Noodweer Exces).” Jurnal Fundamental Justice 4, no. 2 (2023): 141–156. https://doi.org/10.30812/fundamental.v4i2.3277.

Republik Indonesia. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

_____. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Sahetapy, J. E. Bunga Rampai Viktimisasi. Bandung: Eresco, 1995.

Sanjaya, I Gede Windu Merta, I Nyoman Gede Sugiartha, dan I Made Minggu Widyantara, “Pembelaan Terpaksa Melampaui Batas (Noodweer Exces) Dalam Tindak Pidana Pembunuhan Begal Sebagai Upaya Perlindungan Diri.” Jurnal Konstruksi Hukum 3, no. 2 (2022): 406–413. https://www.ejournal.warmadewa.ac.id/index.php/jukonhum/article/view/4847.

Schaffmeister, D. Hukum Pidana. Yogyakarta: Liberty, 1995.

Suryantoro, Dwi Dasa. “Tinjauan Yuridis Terhadap Noodweer Sebagai Upaya Pembelaan Yang Sah,” Yurispruden: Jurnal Fakultas Hukum Universitas Islam Malang 2, no. 2 (2019): 154-163. https://doi.org/10.33474/yur.v2i2.2747.

Taufiq, Annisaa, dan Bambang Santoso. “Telaah Pembelaan Terpaksa (Noodweer) dalam Perkara Tindak Pidana Penganiayaan.” Jurnal Verstek 10, no. 4 (2023): 716-726. https://dx.doi.org/10.20961/jv.v10i4.72912.

Troupis, James R. “A Theoretical Explanation of the Development of Criminal Law.” Journal of Criminal Law and Criminology 70, no. 4 (1979).

Utami, Pingky. “Analisis Pembelaan Terpaksa Korban Tindak Pidana Pembegalan yang Dijadikan Tersangka Menurut Tinjauan Viktimologi.” Media Hukum Indonesia (MHI) 2, no. 4 (2024): 586-591. https://doi.org/10.5281/zenodo.14241908.

Wailisahalong, Rahmat, Wahyu Aznul Hidaya, dan Sahertian Marthin. “Studi Komparasi Antara Overmacht dengan Noodweer Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 2023.” Judge: Jurnal Hukum 5, no. 3 (2024): 21–34. https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/5678985.

Diterbitkan

2026-06-21

Cara Mengutip

Syam, T. A., Kasim, W., & Suslianto, S. (2026). Ketika Korban Menjadi Terdakwa: Analisis Yuridis Pemenuhan Unsur Noodweer dalam Perkara Nomor 70/Pid/B/2024/PN.Lbo dan 133/Pid.B/2024/PN.Lbo. Al-Mizan (e-Journal), 22(1), 131–156. https://doi.org/10.30603/am.v22i1.7707

Artikel Serupa

<< < 1 2 3 4 5 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.