IMPLEMENTASI METODE TALAQQY DALAM MENINGKATKAN KUALITAS HAFALAN BAHASA ARAB MATERI MUFRODAT DI SMPIT AL-JABAR
DOI:
https://doi.org/10.30603/tjmpi.v14i2.7600Abstract
This study aims to analyze the application of the talaqqy method in improving the quality of Arabic memorization of mufrodat material among seventh-grade students of SMPIT Al-Jabar. The research method used is qualitative with a descriptive type. Data collection techniques include interviews, observation, and documentation. Meanwhile, data analysis techniques are carried out through data presentation, data reduction, and drawing conclusions. The research results were obtained from learning observations, interviews with Arabic language teachers, interviews with six students, and supporting documentation. The results of this study indicate that the talaqqy method is implemented through the steps of listening, imitating, and repeating the vocabulary words directly with teacher guidance. The implementation of this method has a positive impact on students' vocabulary memorization abilities, as shown by improvements in correct pronunciation, better memory, and increased self-confidence and motivation to learn. However, in practice, there are still several obstacles and shortcomings such as students' ability to absorb and imitate different vocabulary words, limited lesson time, large number of students, and also variations in student concentration levels. Overall, the talaqqy method has proven effective as an alternative learning strategy to improve the quality of Arabic vocabulary memorization at the junior high school level, with the note that the need for more optimal classroom management and time management.
References
IMPLEMENTASI METODE TALAQQY DALAM MENINGKATKAN KUALITAS HAFALAN BAHASA ARAB MATERI MUFRODAT DI SMPIT AL-JABAR
Winda Rizkya Lestari1, Agus Fudholi2, Haerudin3
123 Universitas Buana Perjuangan Karawang,
1pi22.windalestari@mhs.ubpkarawang.ac.id
2agus.fudhoIi@ubpkarawang.ac.id
3 haerudin@ubpkarawang.ac.id
ABSTRACK
This study aims to analyze the application of the talaqqy method in improving the quality of Arabic memorization of mufrodat material among seventh-grade students of SMPIT Al-Jabar. The research method used is qualitative with a descriptive type. Data collection techniques include interviews, observation, and documentation. Meanwhile, data analysis techniques are carried out through data presentation, data reduction, and drawing conclusions. The research results were obtained from learning observations, interviews with Arabic language teachers, interviews with six students, and supporting documentation. The results of this study indicate that the talaqqy method is implemented through the steps of listening, imitating, and repeating the vocabulary words directly with teacher guidance. The implementation of this method has a positive impact on students' vocabulary memorization abilities, as shown by improvements in correct pronunciation, better memory, and increased self-confidence and motivation to learn. However, in practice, there are still several obstacles and shortcomings such as students' ability to absorb and imitate different vocabulary words, limited lesson time, large number of students, and also variations in student concentration levels. Overall, the talaqqy method has proven effective as an alternative learning strategy to improve the quality of Arabic vocabulary memorization at the junior high school level, with the note that the need for more optimal classroom management and time management.
Keywords: Talaqqy Method, Memorization, Arabic Language
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan metode talaqqy dalam meningkatkan kualitas hafalan bahasa Arab materi mufrodat di kalangan siswa kelas VII SMPIT Al-Jabar. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data dilakukan melalui penyajian data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian diperoleh dari observasi pembelajaran, wawancara dengan guru bahasa Arab, wawancara dengan enam siswa, serta dokumentasi pendukung. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa metode talaqqy dilaksanakan melalui langkah-langkah mendengar, menirukan, dan mengulang lafaz mufrodat secara langsung dengan bimbingan guru. Implementasi metode ini berdampak positif pada kemampuan menghafal mufrodat siswa, yang ditunjukkan melalui peningkatan dalam pelafalan yang tepat, daya ingat yang lebih baik, serta peningkatan kepercayaan diri dan motivasi belajar siswa. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat beberapa hambatan dan kekurangan seperti kemampuan siswa dalam menyerap dan menirukan lafaz yang berbeda, keterbatasan waktu pelajaran, jumlah siswa yang banyak, dan juga variasi tingkat konsentrasi siswa. Secara keseluruhan, metode talaqqy terbukti efektif sebagai alternatif strategi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas hafalan mufrodat bahasa Arab di tingkat SMP, dengan catatan perlunya manajemen kelas dan pengaturan waktu yang lebih optimal.
Kata kunci : Metode Talaqqy, Hafapan, Bahasa arab
PENDAHULUAN
Bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahasa berfungsi sebagai sarana utama dalam menyampaikan ide, gagasan, keinginan, perasaan, serta berbagai bentuk pesan lainnya kepada orang yang kita sampaikan. Selain itu, bahasa dapat dipahami sebagai suatu sistem simbol yang tersusun secara teratur dan digunakan untuk menyampaikan ide maupun informasi, baik melalui simbol visual maupun verbal.² Simbol visual dapat dikenali melalui aktivitas melihat, menulis, dan membaca, sedangkan simbol verbal berkaitan dengan kemampuan berbicara dan mendengar. Dalam perkembangannya, anak mampu mengolah dan menggunakan simbol-simbol tersebut secara beragam sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir yang dimilikinya.
Seiring berjalannya waktu, ragam bahasa pun bertambah mengikuti negara dan daerahnya. Contonya seperti bahasa arab, inggris, jepang, spanyol, indonesia, cina dan bahasa-bahasa lainnya. Di antara beragam bahasa yang ada, Bahasa Arab termasuk bahasa tertua yang masih digunakan hingga saat ini. Bahasa tersebut menjadi perhatian bagi berbagai kalangan. Bagi umat Islam, bahasa Arab memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena Al-Qur’an dan hadist diturunkan menggunakan bahasa tersebut, sehingga memiliki peran penting dalam kehidupan keagamaan umat Muslim. Sejak Al-Qur'an diturunkan, Bahasa Arab dianggap sebagai bahasa wahyu, pengetahuan, dan komunikasi antar umat Islam di dunia. Lebih dari 20 negara resmi menggunakan Bahasa Arab dan lebih dari 200 juta orang menggunakan bahasa ini .
Allah Swt. berfikir dalam Al-Qur'an surah Yusuf, surah ke-12:2:
(يوسف : ١٢ : ٢) اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.”
Dalam tafsir Ibn Kathīr, bahasa Arab dipahami sebagai bahasa yang memiliki keluasan makna dan kefasihan tinggi sehingga mampu menyampaikan pesan wahyu secara mendalam.
Hal ini juga ditegaskan dalam Al-Qur'an surah Asy-Syu'ara, surah ke-26:195:
(الشُّعَرَاء : ٢٦ : ١٩٥) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍۙ
Buya Hamka menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ṣallāllāhu ʻalaihi wa sallam, sebagai bagian dari masyarakat Arab, menyampaikan pesan ilahi menggunakan bahasa Arab. Komunitas pertama yang menerima wahyu tersebut merupakan masyarakat Arab yang menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa ibu. Oleh sebab itu, Al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan diungkapkan dalam bahasa Arab agar dapat disampaikan, dipelajari, dan dipertimbangkan secara mendalam. Keberadaan Al-Qur’an dalam bahasa Arab tidak hanya ditujukan untuk konsumsi verbal, tetapi juga untuk dipahami serta direfleksikan substansi ajarannya.
Dengan demikian, pembelajaran bahasa Arab memiliki urgensi yang tinggi dalam pendidikan Islam karena melalui pemahaman bahasa Arab, umat Muslim dapat mengerti setiap makna ajaran Islam dan mencegah terjadinya kesalahpahaman atau penafsiran yang salah terhadap suatu konteks. Bahasa Arab bagi para pelajar juga merupakan kebutuhan yang sangat penting, karena telah menjadi bahasa agama, bahasa komunikasi resmi antar bangsa, bahasa dunia Islam, bahasa perdagangan, bahasa ekonomi dan perbankan Islam, bahasa kebudayaan, bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi, bahasa hukum, bahasa sehari-hari, dan sebagainya.
Di Indonesia, Bahasa Arab menjadi bagian dari kurikulum pendidikan Islam, terutama di sekolah-sekolah tahfidz, pesantren, dan sekolah Islam terpadu. Dalam buku Kompetensi Dasar Pembelajaran Bahasa Arab, Nurdianto menjelaskan bahwa penguasaan bahasa Arab memiliki peran strategis di berbagai bidang, termasuk ekonomi, diplomasi, dan pengembangan kemampuan komunikasi. Penguasaan mufrodat atau kosakata merupakan aspek fundamental dalam pembelajaran bahasa Arab, bertindak sebagai fondasi utama dalam pembentukan struktur kalimat, pemahaman makna, serta pengembangan kapabilitas komunikasi, baik lisan maupun tulisan. Apabila siswa menghadapi keterbatasan dalam menguasai mufrodat, mereka cenderung menemui kesulitan dalam memahami wacana tertulis maupun berdialog secara kontekstual.
Namun fakta yang terjadi dibeberapa sekolah islam yang menerapkan Bahasa arab dalam mata pelajarannya, Banyak siswa atau mahasiswa belum menguasai pelajaran dasar bahasa Arab, seperti kesulitan dalam membaca, menyimak, berbicara, dan menulis bahasa Arab. Mereka juga mengalami kesulitan dalam menghafal mufrodat (kosa kata), sehingga mereka merasa kesulitan dalam merangkai kata atau kalimat sederhana. Salah satu faktor penyebabnya karena metode pembelajaran yang digunakan masih cenderung konvensional, seperti metode bernyanyi, pembelajaran satu arah atau hafalan mandiri yang kurang memberikan stimulus audio-verbal. Akibatnya, kualitas hafalan siswa cenderung rendah, cepat lupa, dan tidak mampu menggunakan kosakata dalam konteks yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan siswa dalam menguasai mufrodat dipengaruhi oleh faktor linguistik dan non-linguistik. Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pengembangan metode pembelajaran yang lebih efektif.
Kondisi ini juga dialami oleh sebagian siswa di SMPIT Al-Jabar, di mana kemampuan menghafal mufrodat masih belum optimal meskipun materi telah disampaikan secara rutin. Perlu adanya solusi metode pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan karakteristik belajar siswa untuk mengatasi permasalahan tersebut. Keberhasilan pembelajaran bahasa Arab dipengaruhi secara signifikan oleh metode dan media yang digunakan guru.
Salah satu metode yang berpotensi meningkatkan kualitas hafalan mufrodat adalah dengan menggunakan metode talaqqy. Metode talaqqy adalah teknik pembelajaran di mana siswa mendengarkan, meniru, dan mengulang bacaan langsung dari guru. Metode talaqqy telah lama dipraktikkan dalam tradisi pembelajaran Al-Qur’an karena terbukti efektif. Metode ini bergantung pada instruksi lisan langsung antara guru dan siswa. Guru akan membaca ayat terlebih dahulu, kemudian siswa akan menirukan dan melakukan pengulangan dengan bimbingan guru hingga mencapai hafalan yang kuat, bacaan yang tepat, dan ketahanan hafalan yang baik.
Meskipun banyak penelitian dilakukan tentang penerapan metode talaqqy dalam pembelajaran tahfidz Al-Qur'an, penelitian yang mengkaji penerapan metode talaqqy dalam pembelajaran mufrodat Bahasa Arab masih sangat terbatas. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada efektivitas talaqqy dalam menghafal ayat-ayat Al-Qur’an atau menghafal hadist, bukan pada kemampuan penguasaan kosakata bahasa. Hal tersebut menunjukkan adanya kesenjangan penelitian (research gap) bahwa metode talaqqy belum banyak dikembangkan dalam konteks pembelajaran bahasa Arab, khususnya materi mufrodat untuk siswa tingkat SMP. Padahal secara teoritis, prinsip talaqqy yang berbasis auditori, repetisi, dan pembiasaan sangat relevan untuk meningkatkan kualitas hafalan kosakata.
Berdasarkan dari latar belakang tersebut, peneliti merasa penting untuk melakukan penelitian yang mendalam mengenai “Implementasi Metode Talaqy dalam Meningkatkan Kualitas Hafalan Bahasa Arab Materi Mufrodat di SMPIT Al-Jabar.” Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pilihan strategi pembelajaran bahasa Arab yang lebih efektif, berdasarkan konteks, dan sesuai dengan kebutuhan siswa tingkat SMP.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif menekankan pada upaya memahami permasalahan dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas atau natural setting yang bersifat holistis, kompleks, dan rinci. Penelitian kualitatif menghasilkan data berupa kata-kata dan gambar, bukan angka, serta bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami fenomena yang terjadi secara alamiah. Data yang diperoleh dalam penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan dianalisis dengan mengelompokkannya ke dalam kategori-kategori sesuai dengan karakteristik data yang ditemukan. Pendekatan ini dipilih karena fokus penelitian utamanya adalah memahami secara mendalam bagaimana implementasi metode talaqy dapat meningkatkan kualitas hafalan mufrodat peserta didik di SMPIT Al-Jabar. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menggali fenomena, makna, serta proses yang terjadi secara alami di lingkungan pembelajaran. Data dalam penelitian ini dianalisis dan disajikan secara deskriptif sesuai fakta lapangan tanpa adanya manipulasi variabel, sehingga hasil pemaparan merefleksikan kondisi apa adanya di lapangan.
Peneliti melakukan pengamatan, wawancara, dan dokumentasi terkait pelaksanaan pembelajaran Bahasa Arab, khususnya penerapan metode talaqy dalam mengajarkan mufrodat. Rancangan penelitian disusun secara sistematis mulai dari identifikasi masalah, pengumpulan data lapangan, analisis data, hingga penarikan kesimpulan agar hasil penelitian fokus pada efektivitas metode talaqy dalam meningkatkan hafalan mufrodat peserta didik.
Subjek penelitian terdiri atas guru pengampu pelajaran Bahasa Arab dan siswa kelas VIIB di SMPIT Al-Jabar. Guru dipilih sebagai subjek penelitian karena berperan langsung dalam merancang dan mengimplementasikan strategi pembelajaran, termasuk penerapan metode talaqy. Sementara itu, siswa kelas VII dipilih karena mereka telah memperoleh dasar bahasa Arab namun masih memerlukan penguatan dalam penguasaan mufrodat.
Teknik dalam pengumpulan data yang digunakan mencakup:
a. Observasi
Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung proses pelaksanaan pembelajaran Bahasa Arab menggunakan metode talaqy. Peneliti mencatat cara guru menyampaikan mufrodat, interaksi guru–siswa, serta respons siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Indikator yang diamati meliputi keaktifan siswa dalam mendengar, menirukan, mengulang, dan merespons materi mufrodat.
b. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan guru PAI untuk menggali informasi lebih dalam mengenai strategi pembelajaran, langkah-langkah penerapan metode talaqy, kendala yang dihadapi, dan pandangan guru terhadap efektivitas metode tersebut dalam meningkatkan hafalan siswa. Juga dengan 6 siswa kelas VIIB untuk menggali informasi lebih lengkap terkait pendapat siswa dalam penerapan metode talaqqy
c. Dokumentasi
Dokumentasi meliputi pengumpulan bukti fisik catatan lapangan peneliti, lembar wawancara, media pembelajaran yang digunakan guru, serta foto aktivitas pembelajaran.
Adapun teknik analisi datanya menggunakan penyajian data, reduksi data dan penarikan Kesimpulan. Penelitian ini dilakukan di SMPIT Al-Jabar yang terletak di Kp. Pasirjengkol RT 007/003 Desa Karangmulya Kecamatan Telukjambe Barat Kabupaten Karawang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi metode talaqqy dalam meningkatkan kualitas hafalan bahasa Arab materi mufrodat pada siswa kelas VII SMPIT Al-Jabar. Temuan penelitian diperoleh melalui observasi pembelajaran, wawancara dengan guru bahasa Arab, wawancara dengan enam orang siswa, serta dokumentasi pendukung. Adapun hasil penelitian diklasifikasikan ke dalam empat aspek, yaitu perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dampak metode talaqqy terhadap kualitas hafalan mufrodat siswa, serta hambatan dan kekurangan dalam menerapkan metode talaqqy.
1. Perencanaan Pembelajaran Bahasa Arab Metode Talaqqy
Berdasarkan dari wawancara dengan guru pengampu Bahasa Arab, guru melakukan perencanaan pembelajaran yaitu dengan menyelaraskan mufrodat sesuai dengan kompetensi dasar yang sudah disepakati oleh sekolah. Menyiapkan daftar kosakata yang sesuai dengan tema pembelajaran, menentukan waktu pengulangan lafaz mufrodat, dan Langkah-langkah talaqqy yang dilakukan secara bertahap, yaitu dimulai dari memperdengarkan lafadz mufrodat secara Bersama-bersama, selanjutnya peniruannya bersama dan yang terakhir adalah pengulangannya secara individual.
Secara konseptual, hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran tidak hanya difokuskan pada aspek pendengaran, tetapi juga pada ketepatan lafaz serta kekuatan daya ingat siswa, yang menjadi pokok utama dalam penerapan metode talaqqy. Metode ini menekankan adanya hubungan langsung antara guru dan siswa melalui proses mendengar dan menirukan secara berulang.
Secara teoretis, metode talaqqy merupakan metode pembelajaran yang menekankan aspek auditori dan repetisi. Dalam buku Metode Pembelajaran Al-Qur’an, Abror menjelaskan bahwa materi pembelajaran yang menuntut ketepatan lafaz serta kekuatan hafalan paling efektif diajarkan melalui pendekatan talaqqy. Dengan metode ini, siswa belajar secara langsung dari sumber yang benar, kemudian mengulanginya secara berulang sehingga hafalan dapat tertanam kuat dalam ingatan. Prinsip tersebut tidak hanya berlaku dalam pembelajaran Al-Qur’an, tetapi juga relevan dalam pembelajaran bahasa, termasuk penguasaan mufrodat bahasa Arab.
Perencanaan, metode, dan strategi pembelajaran yang matang merupakan faktor penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pandangan Zainuddin dkk. yang menyatakan bahwa secara teoretis keberhasilan pembelajaran bahasa Arab sangat bergantung pada metode dan media yang digunakan oleh guru. Oleh karena itu, ditinjau dari karakteristik pembelajaran bahasa Arab, penggunaan metode talaqqy dinilai relevan untuk diterapkan karena menekankan ketepatan lafaz, pendengaran, dan pengulangan secara langsung antara guru dan peserta didik.
Iskandarwassid, sebagaimana dikutip dalam buku Kompetensi Dasar Pembelajaran Bahasa Arab karya Nurdianto, menyatakan bahwa strategi pembelajaran bahasa Arab pada umumnya berkaitan erat dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan. Strategi pembelajaran tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yaitu:
1) strategi berdasarkan komponen pembelajaran yang ditekankan,
2) strategi berdasarkan proses pengolahan materi,
3) strategi berdasarkan arah pengolahan materi pembelajaran.
Berdasarkan klasifikasi tersebut, penerapan metode talaqqy dalam pembelajaran mufrodat bahasa Arab yang menuntut ketepatan dan kekuatan hafalan dinilai tepat sebagai salah satu strategi pembelajaran bahasa Arab.
2. Pelaksanaan Metode Talaqqy Dalam Pembelajaran Mufrodat
Hasil observasi menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Arab di SMPIT Al-Jabar dari sisi pelaksanaannya terlihat sudah sistematis. Pembelajran diawali dengan guru mengondisikan kelas agar siswa bisa belajar dengan siap dan baik. Selanjutnya, guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siwa bahwa pembelajaran hari ini khusus untuk sub bab materi mufrodat sesuai tema yang sedang dipelajari. Guru juga menerangkan bahwa pertemuan hari ini pembelajaran mufrodat akan dilakukan dengan metode talaqqy, yaitu mendengar, meniru, dan mengulang bersama bacaan mufrodat yang diberikan.
Guru menuliskan mufrodat masing masing dibuku lks kepapan tulis agar siswa lebih mudah dalam pembelajara. kemudian guru membaca mufrodat satu persatu dengan usuara yang jelas dan pelafalan yang benar. Setiap mufrodat yang dibacakan guru diucapkan pelan-pelan agar mudah ditirukan oleh siswa. Setelah guru mengeja mufrodat, siswa diminta untuk menirukannya secara bersamaan. Kegiatan ini dilakukan berulang kali hingga Sebagian besar siswa terlihat mulai hafal.
Di sela-sela kegiatan, guru sesekali menghentikan bacaan untuk memperbaiki pelafalan siswa yang kurang tepat. Guru juga memberikan contoh ulang agar siswa bisa menyesuaikan makhraj dan intonasi dengan benar. Kemudian guru menunjuk beberapa siswa untuk melafalkan mufrodat secara individu dan memberikan penguatan berupa pujian serta koreksi ringan. Kemudian guru mulai menghapus satu persatu mufrodat yang ada dipapan tulis sambil menanyakan mufrodat atau arti dari mufrodat yang telah dihapus dan diulang beberapa kali sampai siswa menyebutkan mufrodat atau arti dari mufrodat tanpa menggunakan teks,tujuannya untuk menguatkan hafalan mufrodat siswa.
Setelah itu guru mulai memberi contoh pemakaian mufrodat kedalam muhadatsah dan cerita sesuai yang ada dibuku teks namun tidak signifikan karena fokus sub muhadatsah dan cerita akan dilaksanakan dalam minggu selanjutnya.
Setelah selesai mentalaqqy dan memberi contoh kemudian guru mengintruksikan siswa untuk muroja’ah secara mandiri dan menyetorkannya kepada guru agar guru dapat menilai progres hafalan dan pelafalan mufrodat setiap siswa.
Setelah pembelajaran selesai,guru menyampaikan kepada siswa bahwa materi minggu selanjutnya yaitu penerapan mufrodat kedalam muhadatsah dan cerita diharapkan siswa untuk mengingat mufrodat yang telah disampaikan agar mudah memahami submateri setelahnya.
Menurut pencatatan di lapangan pembelajaran, suasana kelas lebih hidup. Siswa sepertinya lebih fokus ketika pembelajaran terjadi karena pembelajarannya itu diterapkan secara lisan. Talaqqy membuatnya lebih aktif. Siswa tidak hanya hanya sekadar penghafal langsung, melainkan dia harus mendengar, mengucapkan, dan mengulangannya terus menerus.
Temuan ini sejalan dengan pendapat sukma dan nahar yang menyatakan bahwa talaqqy efektif karena melibatkan proses mendengar dan menirukan secara langsung, sehingga memperkuat memori jangka panjang. Selain itu, metode ini memberikan stimulus audio-verbal yang lebih kuat dibandingkan metode hafalan mandiri.
Hasil wawancara siswa juga menguatkan temuan observasi. Salah satu siswa bernama Naila (kelas VII) menyatakan bahwa ia lebih mudah menghafal mufrodat karena guru mengucapkannya berulang-ulang dan langsung membetulkan jika salah. Siswa bernama Humaira (kelas VII) juga mengungkapkan bahwa sebelumnya ia sering lupa kosakata, namun setelah menggunakan metode talaqqy, hafalannya menjadi lebih kuat. Dari wawancara Haikal (kelas VII) dia menuturkan bahwa lebih percaya diri dalam mengucapkan mufrodat karena sudah terbiasa menirukan lafadz guru. Sementara itu, Salsa (kelas VII) dan Radja (kelas VII) menyampaikan bahwa pengulangan bersama membuat mereka tidak merasa terbebani dalam menghafal. Nurul (kelas VII) menambahkan bahwa pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan karena guru dapat membawa susasana kelas menjadi tidak pasif.
Hasil wawancara ini menunjukkan bahwa penerapan metode talaqqy berdampak tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif siswa, seperti meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi belajar. Penemuan ini sejalan dengan penelitian oleh Huda yang menyatakan bahwa kesulitan siswa dalam belajar kosakata Arab dapat diatasi dengan efektif melalui penggunaan metode pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dan memberikan stimulus yang beragam.
3. Dampak Metode Talaqqy Terhadap Kualitas Hafalan Mufrodat Siswa
Berdasarkan hasil pengamatan dan dokumentasi hasil belajar di lapangan, terlihat bahwa kualitas hafalan mufrodat siswa setelah penerapan metode talaqqy meningkat dibandingkan sebelum metode ini diterapkan. Siswa lebih mampu mengingat kosakata dalam jangka waktu yang lebih lama, pengucapan menjadi lebih tepat, dan penggunaan mufrodat dalam konteks sederhana.
Data nilai kuantitatif belum disajikan secara numerik, tetapi dari temuan lapangan tersebut, saya menyimpulkan bahwa sebagian besar siswa mengalami peningkatan kemampuan hafalan. Hal ini dibuktikan dengan tanggapan guru bahwa siswa lebih cepat mengingat mufrodat baru dan lebih jarang lupa mufrodat sebelumnya.
Temuan penelitian ini memperkuat pendapat Khotimah dkk. yang menyatakan bahwa penguasaan mufrodat merupakan fondasi utama dalam pembelajaran bahasa Arab, dan kelemahan dalam penguasaan kosakata akan berdampak langsung pada kemampuan berbahasa secara keseluruhan. Melalui penerapan metode talaqqy, peserta didik memperoleh penguatan pada aspek dasar tersebut, khususnya dalam ketepatan pelafalan dan daya ingat kosakata.
Secara teoretis, prinsip talaqqy yang menekankan pendengaran, peniruan, dan pengulangan sangat relevan dengan teori pemerolehan bahasa yang menekankan pentingnya input auditori dan latihan berulang. Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab, cara ini membantu murid memperkuat memori fonologis mereka, sehingga hafalan kosakata menjadi lebih baik dan lebih tahan lama.
Dengan demikian, implementasi metode talaqqy di SMPIT Al-Jabar terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas hafalan mufrodat siswa, baik dari segi ketepatan lafaz, daya ingat, maupun motivasi belajar.
4. Hambatan dan kekurangan dalam Implementasi Metode Talaqqy pada Pembelajaran Mufrodat
Meskipun hasil temuan penerapan metode talaqqy di SMPIT Al-Jabar menunjukkan dampak positif terhadap peningkatan kualitas hafalan mufrodat siswa, hasil penelitian juga menemukan beberapa hambatan dan kekurangan penerapan metode talaqqy yang dihadapi selama proses pembelajaran berlangsung. Hambatan tersebut berasal dari faktor internal siswa maupun faktor teknis dalam pelaksanaan pembelajaran dikelas.
Berdasarkan temuan observasi dan hasil wawancara dari guru pengampu Bahasa Arab, diantara hambatan-hambatan yang ada yaitu perbedaan kemampuan siswa dalam menerima dan menirukan lafaz mufrodat. Tidak setiap siswa memiliki tingkat kecepatan yang sama dalam memahami bunyi bahasa Arab. Beberapa siswa membutuhkan pengulangan lebih banyak dibandingkan siswa lainnya. Kondisi ini menyebabkan guru harus menyesuaikan tempo pembelajaran agar seluruh siswa tetap dapat mengikuti proses talaqqy dengan baik.
Selain itu, kekurangan dalam menerapkan metode talaqqy muncul dari keterbatasan waktu pembelajaran dan jumlah siswa. Metode talaqqy menuntut proses pengulangan yang cukup intensif dan membutuhkan waktu yang cukup lama agar hafalan siswa benar-benar kuat. Namun, alokasi waktu pelajaran bahasa Arab yang hanya 1 jam dalam setiap pertemuan dan jumlah siswa kelas VII yang cukup banyak yaitu berjumlah 37 siswa membuat guru tidak selalu dapat memberikan pengulangan individual kepada seluruh siswa secara optimal. Hal ini sejalan dengan temuan Abror yang menyatakan bahwa Pembelajaran dengan Metode Talaqqi hanya dapat mengajari beberapa murid yang tidak melebihi kuota ideal (kurang lebih 5 orang), sehingga tidak tepat untuk dipraktikkan dengan kuota murid yang terlalu banyak.
Dari hasil wawancara siswa, beberapa hambatan juga dirasakan langsung oleh peserta didik. Siswa yaitu Humaira (kelas VII) dan Salsa (kelas VII) mengungkapkan bahwa pada awal penerapan metode talaqqy mereka merasa kesulitan mengikuti pelafalan guru karena belum terbiasa mendengar bunyi bahasa Arab secara intensif. Sementara itu, siswa Nurul Humaira (kelas VII) juga menyampaikan bahwa rasa kurang percaya diri ketika diminta menirukan mufrodat secara individual di depan kelas menjadi tantangan tersendiri, meskipun perlahan dapat diatasi setelah terbiasa.
Hambatan lainnya adalah tingkat konsentrasi siswa yang masih labil, terutama ketika proses pengulangan dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Beberapa siswa terlihat mulai kehilangan fokus apabila pengulangan tidak disertai variasi atau penguatan motivasi dari guru. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun metode talaqqy efektif, guru tetap perlu mengombinasikannya dengan pendekatan motivasional agar siswa tetap antusias.
Temuan mengenai hambatan pembelajaran ini sejalan dengan pendapat Abror yang menyatakan bahwa penggunaan metode talaqqy dapat menimbulkan rasa jenuh dan bosan pada sebagian peserta didik, terutama apabila guru kurang kreatif dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik dan kondusif. Pandangan tersebut diperkuat oleh Huda yang menyatakan bahwa kesulitan dalam pembelajaran mufrodat tidak hanya berkaitan dengan aspek linguistik, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis dan situasional, seperti motivasi belajar serta kondisi kelas. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian strategi pembelajaran oleh guru agar penerapan metode talaqqy dapat berjalan secara lebih optimal.
Studi terbaru menunjukkan bahwa hambatan-hambatan yang diidentifikasi dalam proses pembelajaran seringkali melibatkan beragam faktor yang kemudian dievaluasi untuk meningkatkan strategi pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara lebih efektif. Dengan demikian, secara keseluruhan hambatan dan kekurangan yang ditemukan dalam penelitian ini tidak bersifat menghambat secara signifikan, melainkan menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan pembelajaran. Dengan pengelolaan waktu yang lebih efektif, pemberian penguatan motivasi, serta penyesuaian tempo pembelajaran, metode talaqqy tetap dapat diterapkan secara optimal dalam pembelajaran mufrodat bahasa Arab di SMPIT Al-Jabar.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian dan diskusi tentang penerapan metode talaqqy dalam meningkatkan kualitas hafalan kosa kata bahasa Arab di SMPIT Al-Jabar, dapat disimpulkan bahwa metode talaqqy menerapkan perencanaan dan dilkasanakan dengan sistematis, meliputi proses mendengar, menirukan, dan mengulang lafaz mufrodat dengan arahan guru secara langsung. Metode talaqqy memberikan bimbingan pelafalan lafadz yang benar serta terjadi pengulangan terhadap materi secara berkelanjutan agar hafalan mufrodat menjadi lebih kuat lagi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi metode talaqqy memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hafalan mufrodat, aspek pelafalan, daya ingat, dan kemampuan siswa dalam menggunakan mufrodat secara sederhana. Selain itu, metode talaqqy juga memberikan dampak pada motivasi belajar, kepercayaan diri, keaktifan, dan lain-lain selama pembelajaran bahasa Arab.
Namun, selama penelitian tersebut, terdapat pula hambatan dalam penerapan metode talaqqy yaitu kemampuan siswa dalam menangkap dan menirukan lafaz yang berbeda, keterbatasan jumlah waktu pembelajaaran, jumlah siswa yang banyak, juga kemampuan konsentrasi siswa yang bervariasi. Hambatan tersebut tidak mengurangi efektivitas metode talaqqy secara keseluruhan, tetapi menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaannya dapat lebih optimal.
Dengan demikian, metode talaqqy bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan alternatif metode pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kualitas hafalan kosakata bahasa Arab di tingkat SMP, khususnya apabila didukung dengan pengelolaan waktu yang baik, variasi pembelajaran, serta penguatan motivasi belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Abror, indal, METODE PEMBELAJARAN AL-QUR’AN Kumpulan Metode-Metode Mengenal Huruf Al-Qur’an, cetakan pe (yogyakarta: SUKA-Press, 2022)
Agustini, Agustini, ‘Urgensi Pemahaman Bahasa Arab Dalam Mempelajari Agama Islam Di Indonesia’, IN RIGHT: Jurnal Agama Dan Hak Azazi Manusia, 10.2 (2023), 195 <https://doi.org/10.14421/inright.v10i2.2922>
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revi (Jakarta: Rineka Cipta, 2006)
Aulia, Vidya Isma, and Wulan Anggraeni, ‘Urgensi Pembelajaran Bahasa Arab Dalam Pendidikan Islam’, Uktub: Journal of Arabic Studies, 3.1 (2023), 22–40 <https://doi.org/10.32678/uktub.v3i1.7854>
Dhieni, Nurbiana, and Lara Fridani, ‘Hakikat Perkembangan Bahasa Anak (Modul 1 PAUD)’, Modul Paud Diakses Pada Tanggal, 2007, 1–28
Huda, Miftahul, ‘Difficulties in Learning Arabic Vocabulary ( Mufradat ) Students of MTs NU Al Falah Jekulo Kudus Kesulitan Belajar Kosakata Bahasa Arab ( Mufradat ) Siswa MTs NU Al Falah Jekulo Kudus’, 3.2 (2022), 291–304
Khotimah, Isnol, Universitas Nurul Jadid, and Jawa Timur, ‘THE IMPLEMENTATION OF SONG-BASED MEDIA AS AN INNOVATIVE APPROACH TO ENHANCE ARABIC VOCABULARY MASTERY AT MI AL-HUSNA DAWUHAN’, 6.2 (2025), 116–32
Mansyur, ‘Implikatur Dan Praanggapan Pada Program Debat Terbuka Pasangan Pemimpin Jawa Barat Periode 2018-2023 Dengan Tajuk “ Debat Publik Kedua Cagub Jawa Barat ” ( Suatu Kajian Pragmatik )’, Diskursus: Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 2.1 (2019), 49–54 <https://doi.org/https://www.journal.lppmunindra.ac.id/index.php/diskursus/article/download/6662/3172>
Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010)
Nurdianto, Talqis, Kompetensi Dasar Pembelajaran Bahasa Arab, 2020
Osman, Rahmah Binti Ahmad H., and Muhammad Ikram Abu Hassan, ‘Keistimewaan Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al-Quran Dan Kepentingan Menguasainya Bagi Para Mufassirīn’, Al Hikmah International Journal of Islamic Studies and Human Sciences, 5.2 (2022), 325–42 <https://doi.org/10.46722/hkmh.5.2.22n>
Pauseh, Amanah Noor, Nanda Nurul Azmi, and Alvira Pranata, ‘ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KESULITAN BELAJAR BAHASA ARAB SERTA SOLUSINYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR’, Armala: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, Vol. 3 No.Vol. 3 No. 1 (2022), 47–56
Rengganis, Suci Tuti, ‘Pembelajaran Toilet Training Anak Dengan Hambatan Kecerdasan Di Sekolah Khusus Bintang Harapan’ (Universitas Pendidikan Indonesia, 2019) <https://repository.upi.edu/41896/4/S_PKH_1507410_Chapter3.pdf>
Rifqi, Mandra Jaya, Pathur Rahman, and Gusti Gusti, ‘Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al-Qur’an Menurut Hamka Dan Al-Zamakhsyari Dalam Qs. Yusuf (12): 2 Dan Asy-Syu’ara’ (26): 195’, Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir, 4.2 (2023), 86–105 <https://doi.org/10.62109/ijiat.v4i2.41>
Rusdi, ‘KEMAMPUAN MENGHAFAL AL-QUR’AN DENGAN METODE TALAQQY DI SD HAFIZH AL-QURBAH PAREPARE’ (INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PAREPARE, 2023) <https://repository.iainpare.ac.id/id/eprint/5446/1/19.1100.093.pdf>
Salida, Ainun, and Zulpina Zulpina, ‘Keistimewaan Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al-Quran Dan Ijtihadiyyah’, Jurnal Sathar, 1.1 (2023), 23–33 <https://doi.org/10.59548/js.v1i1.40>
Sukma, Kinana Dwinta, and Syamsu Nahar, ‘The Effectiveness of the Talaqqī Musyāfahah Method in Improving Students ’ Al-Qur ’ an Memorization Skills’, 14.1 (2025), 449–63
Sulistio, Bagus, Saifur Rohman, and Miftahulkhairah Anwar, ‘Hambatan Dan Solusi Dalam Pembelajaran Menulis Kreatif Di SD Muhammadiyah 1 Banjarnegara’, Disastra: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 7.1 (2025), 217 <https://doi.org/10.29300/disastra.v7i1.7666>
Wijayanti, Ratna, ‘Buku Ajar Metodelogi Penetilitan’, Angewandte Chemie International Edition, 2015, 5–24
Zainuddin, Ammar, Imam Asrori, Miftahul Huda, Universitas Negeri Malang, Universitas Islam, Negeri Maulana, and others, ‘Analysis of Standardization of Reading Learning for Non-Native Speakers in the Arab World and the West’, 6.1 (2022), 329–48










