MERDEKA BELAJAR TANPA BATAS: INOVASI ADAPTASI KURIKULUM MERDEKA UNTUK SISWA TUNARUNGU
DOI:
https://doi.org/10.30603/tjmpi.v14i1.6791Kata Kunci:
Kurikulum Merdeka, Pendidikan Inklusif, Penyesuaian Kurikulum, Pembelajaran Diferensiasi, Pembelajaran Berbasis PengalamanAbstrak
Penelitian ini mengeksplorasi implementasi Kurikulum Merdeka dalam menyesuaikan dengan kebutuhan pendidikan siswa tunarungu di SLBN Cicendo, Bandung. Sebagai kurikulum inklusi yang diperkenalkan pada tahun 2022, Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas bagi pendidik untuk mengembangkan pembelajaran yang berbeda yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan wawancara mendalam dan analisis dokumen, penelitian ini menyoroti strategi, tantangan, dan inovasi dalam pengajaran, dukungan emosional, dan persiapan kesiapan kerja. Temuan menunjukkan bahwa para guru menggunakan strategi adaptif seperti komunikasi total, pembelajaran kontekstual, dan pengajaran individual untuk mengakomodasi siswa dengan gangguan pendengaran, termasuk siswa dengan disabilitas tambahan. Selain itu, pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berbasis pengalaman membantu menumbuhkan kemandirian dan pemikiran kritis. Dukungan emosional dan sosial ditekankan melalui penilaian non-akademik dan pelatihan guru dalam pengembangan sosio-emosional. Sekolah ini juga memfasilitasi pengalaman kerja di dunia nyata melalui program magang dengan lebih dari 40 organisasi mitra. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menyesuaikan kemampuan siswa dengan tuntutan dunia kerja. Untuk mengatasinya, sekolah terus mengevaluasi penempatan kerja dan memperkuat kolaborasi dengan industri yang ramah terhadap inklusi. Studi ini menggarisbawahi pentingnya adaptasi kurikulum inklusif di luar ruang kelas, dengan melibatkan pemangku kepentingan di masyarakat dan industri. Temuan ini berkontribusi pada wacana pendidikan inklusif dengan menawarkan model untuk mengadaptasi kebijakan kurikulum nasional dengan realitas siswa berkebutuhan khusus. Rekomendasi yang diberikan mencakup pelatihan guru secara berkelanjutan, penyediaan media pembelajaran yang mudah diakses, dan perluasan jaringan pendidikan inklusif.










