ONTOLOGI KEBENARAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM: PERSPEKTIF INTEGRATIF ANTARA RASIO, WAHYU DAN TEKNOLOGI

Penulis

  • Adang Hambali UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • Rizki Imanudin UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • Rizqynursholihat UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • Dayat Indra Hidayat UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • Dede Sulaeman UIN Sunan Gunung Djati Bandung

DOI:

https://doi.org/10.30603/tjmpi.v14i2.7086

Kata Kunci:

Ontologi Kebenaran; Pendidikan Islam; Integrasi Rasio-Wahyu-Teknologi

Abstrak

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis ontologi kebenaran dalam pendidikan Islam melalui pendekatan integratif antara rasio, wahyu, dan teknologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research), menelaah sumber-sumber klasik dan kontemporer yang relevan dengan epistemologi Islam dan filsafat pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pendidikan Islam, kebenaran tidak hanya bersumber dari rasio manusia yang bersifat empiris, tetapi juga dari wahyu ilahi yang menjadi landasan absolut dan transendental. Integrasi antara rasio dan wahyu menjadi dasar epistemologis yang mampu melahirkan sistem pendidikan yang seimbang antara akal dan iman. Dalam konteks era digital, teknologi berperan sebagai instrumen untuk memperluas jangkauan ilmu dan memperkuat efektivitas pembelajaran, namun pemanfaatannya harus tetap berada dalam bingkai nilai-nilai tauhid dan etika Islam. Penelitian ini menegaskan perlunya paradigma keilmuan yang mengharmoniskan aspek rasional, spiritual, dan teknologi untuk membangun pendidikan Islam yang humanis, adaptif, dan berorientasi pada kebenaran yang holistik.

Referensi

Adang Hambali dkk., Ontologi Kebenaran dalam Ilmu Pengetahuan Kontemporer: Perspektif Integratif antara Rasio, Wahyu, dan Teknologi (Bandung: UIN Sunan Gunung Djati, 2024), h. 3.

Adang Hambali dkk., Ontologi Kebenaran dalam Ilmu Pengetahuan Kontemporer (Bandung: UIN Sunan Gunung Djati, 2024), h. 15.

Al-Faruqi, Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan (Herndon: IIIT, 1982), h. 22; Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), h. 58.

Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Fikr, 1998), h. 21.

Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz I (Beirut: Dar al-Fikr, 2002), h. 45; Ibn Sina, Kitab al-Najat (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1982), h. 33.

Amin Abdullah, Multidisiplin, Interdisiplin, dan Transdisiplin: Metode Studi Agama dan Studi Islam di Era Kontemporer (Yogyakarta: IB Pustaka, 2020), h. 210; Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), h. 128.

Aristoteles, Metaphysics (London: Penguin Classics, 1998), h. 45.

Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tr adisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III (Jakarta: Kencana, 2010), h. 85; Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Lahore: Ashraf Press, 1934), h. 115.

Creswell, Qualitative Inquiry and Research Design, h. 201; Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln, The SAGE Handbook of Qualitative Research (Thousand Oaks: Sage Publications, 2011), h. 512.

Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982), h. 15; Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1996), h. 42.

Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: University of Chicago Press, 1982), h. 25; Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1996), h. 47.

Francis Bacon, The New Organon (London: Cambridge University Press, 2000), h. 23.

George Ritzer, Sociological Theory (New York: McGraw-Hill, 2011), h. 9; Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2019), h. 243.

Jean Baudrillard, Simulacra and Simulation (Michigan: University of Michigan Press, 1994), h. 3.

Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2009), h. 67.

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2018), h. 6; Zed Mestika, Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), h. 4.

M. Amin Abdullah, Islam sebagai Paradigma Ilmu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h. 132; Azyumardi Azra, Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi (Jakarta: Kompas, 2002), h. 55.

M. Amin Abdullah, Islam sebagai Paradigma Ilmu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h. 156; Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III (Jakarta: Kencana, 2010), h. 73.

Miles, Matthew B., dan A. Michael Huberman, Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Methods (Beverly Hills: Sage Publications, 1994), h. 16.

Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 12; Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, h. 35.

Muhammad Abduh, Risalat al-Tawhid (Kairo: Dar al-Manar, 2005), h. 18; Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam (Jakarta: UI Press, 1980), h. 51.

Mulla Sadra, Al-Asfar al-Arba‘ah (Teheran: Dar Ihya’ al-Turats, 1981), h. 112.

Paul Ricoeur, Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976), h. 87; John W. Creswell, Qualitative Inquiry and Research Design (Thousand Oaks: Sage Publications, 2013), h. 150.

Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State University of New York Press, 1989), h. 89; Al-Faruqi, Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan (Herndon: IIIT, 1982), h. 25.

Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Albany: State University of New York Press, 1989), h. 92; Mulyadhi Kartanegara, Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik (Bandung: Arasy, 2005), h. 103.

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), h. 79; Ziauddin Sardar, Reclaiming the Sacred: Science, Technology and Religion in Contemporary Islam (London: Zed Books, 1989), h. 56.

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), h. 82; M. Amin Abdullah, Islam sebagai Paradigma Ilmu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h. 161.

Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (Chicago: University of Chicago Press, 1962), h. 110; M. Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), h. 41.

Yusof Al-Qaradawi, Al-‘Aql wa al-‘Ilm fi al-Qur’an al-Karim (Kairo: Dar al-Syuruq, 2001), h. 57; Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), h. 33.

Ziauddin Sardar, Reclaiming the Sacred: Science, Technology and Religion in Contemporary Islam (London: Zed Books, 1989), h. 63; Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), h. 42.

Diterbitkan

2026-06-10

Cara Mengutip

Hambali, A., Imanudin, R., Rizqynursholihat, Hidayat, D. I., & Sulaeman, D. (2026). ONTOLOGI KEBENARAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM: PERSPEKTIF INTEGRATIF ANTARA RASIO, WAHYU DAN TEKNOLOGI. Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 14(2), 432–443. https://doi.org/10.30603/tjmpi.v14i2.7086