The Epistemic Authority in Islamic Religious Education in the Age of Generative Artificial Intelligence: Reconstructing the Concepts of Sanad and Talaqqī
DOI:
https://doi.org/10.30603/au.v25i2.8297Kata Kunci:
Otoritas epistemik, pendidikan agama Islam, kecerdasan artifisial generatifkecerdasan artifisial generatif, sanad, talaqqiAbstrak
Kecerdasan artifisial generatif menempatkan peserta didik Pendidikan Agama Islam (PAI) di hadapan sumber pengetahuan keagamaan yang tidak memiliki mata rantai penuturan. Literatur yang ada membahas otoritas keagamaan digital tanpa memasuki ruang kelas, dan membahas pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tanpa mempersoalkan keabsahan pengetahuannya. Kajian ini merekonstruksi konsep sanad dan talaqqi menjadi kriteria otoritas epistemik, mengujikannya pada kecerdasan artifisial generatif, serta menarik implikasinya bagi pembelajaran PAI. Sebagai artikel konseptual berpendekatan filosofis-hermeneutik, kajian ini bersumber pada teks tradisi periwayatan, dokumen teknologis, serta literatur mutakhir yang dihimpun dari basis data Scopus. Analisis isi terarah menghasilkan empat kriteria: ketersambungan (ittiṣāl), integritas moral (ʿadālah), ketepatan penukilan (ḍabṭ), dan pembentukan (takwīn). Kecerdasan artifisial generatif hanya memenuhi kriteria ketepatan, itu pun sebagian. Temuan pokoknya, tiga ketidakterpenuhan bersifat struktural dan satu kontingen. Pembedaan ini menuntut pemilahan tugas dan penegasan kedudukan guru, bukan pelarangan menyeluruh.

