Optimalisasi Kemampuan Berfikir Kritis Santri Dalam Memahami Ilmu Fikih Di Ponpes Nurul Huda Banat; Pendekatan Problem Based Learning
DOI:
https://doi.org/10.58194/pekerti.v8i1.7026Kata Kunci:
Problem_Based_Learning, Ilmu_FikihAbstrak
Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang banyak digunakan di pesantren, termasuk di Ponpes Nurul Huda Banat, didominasi oleh ustadz dan cenderung pasif. Pendekatan ini terlalu fokus pada aspek kognitif, sehingga kurang mengembangkan kemampuan afektif dan psikomotorik santri, khususnya dalam ilmu fikih yang merupakan fundamental dalam hukum Islam. Akibatnya, nalar kritis fikih (fikhiyyat) dan hasil belajar santri menjadi rendah. Maka diperlukan inovasi pembelajaran untuk menumbuhkan nalar kritis guna menghubungkan hukum fikih dengan realitas modern. Salah satu solusi inovatif yang telah terbukti efektif dan sedang gencar dibahas dalam dunia pendidikan adalah penerapan Problem-Based Learning (PBL), yang sejalan dengan pendekatan ilmiah (scientific approach). Studi ini mengadopsi pendekatan kuantitatif melalui jenis penelitian eksperimen. Desain yang diterapkan adalah True Experimental Design dengan bentuk Pretest-Posttest Control Group Design. Untuk analisis data, digunakan gabungan analisis deskriptif kualitatif yang diperkuat oleh data kuantitatif. Hasil utama penelitian ini menegaskan adanya pengaruh positif dan signifikan dari strategi Problem-Based Learning (PBL) terhadap peningkatan motivasi dan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran fikih. Secara spesifik, strategi PBL secara signifikan meningkatkan motivasi sikap kritis peserta didik; hal ini dibuktikan dengan rata-rata nilai kelas eksperimen yang mencapai 84,17, jauh melampaui rata-rata kelas kontrol yang hanya 76,38. Lebih lanjut, PBL juga terbukti meningkatkan hasil belajar secara substansial, di mana rata-rata nilai kelas eksperimen berada pada angka 88,28, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata kelas kontrol yang memperoleh 79,31








